Forum Gabungan Komunitas Peduli Rob Pekalongan

Senin, 01 Oktober 2018

Penurunan Tanah di Pekalongan Mengkhawatirkan

PEKALONGAN- Tingkat penurunan tanah di Kota Pekalongan sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Kondisi ini menyebabkan banjir rob di Pekalongan cenderung lebih parah di daerah lainnya.

Penurunan muka tanah (land subsidence) tersebut terjadi karena penggunaan sumber air tanah yang berlebihan.

Hal ini berdasarkan hasil penelitian Lembaga Patnership/Kemitraan bagi Tata Kelola Pemerintahan dengan menggunakan citra satelit sentinel kurun waktu 2016 dan 2017.

'' Penurunan tanah di Kota Pekalongan harus benar-benar menjadi perhatian serius. Jika dibandingkan, di DKI Jakarta, penurunan tanah mencapai 20 cm per tahun. Sementara penurunan tanah pada kurang lebih 15 kelurahan di Kota Pekalongan mencapai 25-34 cm per tahun,'' ujar peneliti Lembaga Kemitraan/Patnership bagi Tata Kelola Pemerintahan Arif Nurdiansyah saat membuka Workshop Partisipatif Peningkatan Kapasitas Menulis dan Membuat Film di Hotel Nirwana, Minggu (16/9).   

Kegiatan ini dihadiri oleh 22 komunitas yang memiliki kepedulian dalam upaya penanggulangan rob di Kota Pekalongan. Acara diisi oleh penulis buku Ashad Kusumadjaya dari Jogjakarta dan sutradara film dokumenter Lexy Rambadeta.

Menurut Arif, selain Kelurahan Bandengan yang paling parah dampak robnya, ada Kelurahan Kandang Panjang, Panjang Wetan, Dukuh, Pabean, Kraton, Kramat Sari, Pasar Sari, bahkan Kelurahan Tegalrejo yang lokasinya berada di sebelah selatan dan cukup jauh dari bibir pantai.

'' Sejauh ini belum ada metode maupun teknologi yang dapat menaikan muka tanah secara tepat, di sisi lain pada titik tertentu tanah akan mengunci dan tidak dapat dinormalisasi, bahkan menyerap air. Namun demikian, tingkat penurunan tanah dapat diminimalisasi,'' katanya.

Menurut Arif, dibutuhkan keterlibatan semua pihak terkait persoalan ini. Pemerintah Kota Pekalongan mengeluarkan Perda untuk mengatur penggunaan air tanah, sementara Provinsi menormalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS), mengingat kondisi lima sungai di Pekalongan sudah memprihatinkan, baik dari sisi sedimentasi maupun limbahnya.

Sementara dari sisi masyarakat, pembuatan sumur resapan dan penanaman pohon untuk mengoptimalisasi penyerapan air tanah, serta mangrove di wilayah banjir rob dapat menjadi alternatif untuk dilakukan. Arif juga mengingatkan, perusahaan baik yang ada di Pekalongan maupun di luar kota juga bertanggungjawab terhadap kondisi yang dialami Kota Pekalongan. Oleh karena itu, mereka harus terlibat aktif. Seperti melalui dana corporate social responsibility (CSR) dalam gerakan meminimalisasi tingkat penurunan muka tanah dan penanggulangan banjir rob.”

'' Melalui upaya bersama, baik di level daerah, provinsi maupun pusat untuk mencegah semakin menurunnya muka tanah, intrusi air laut yang masuk ke wilayah penduduk dapat diminimalkan,'' katanya.

Penyusunan Master Plan

Irendra Radjawali, peneliti Lembaga Kemitraan/Patnership lainnya menambahkan, proses pembangunan tanggul raksasa yang sedang dikerjakan oleh pemerintah juga harus memperhitungkan faktor penurunan muka tanah yang terjadi. Ini supaya keberadaan tanggul nantinya dapat menahan intrusi air laut dalam waktu lama. Untuk itu, Radjawali mengusulkan perlunya menyusun rencana (master plan) pembangunan tanggul yang komprehensif memperhatikan beberapa aspek, diantaranya keterlibatan masyarakat dan menghitung jumlah penurunan muka tanah.

'' Hasil penelitian ini dari Kemitraan dapat dijadikan salah satu referensi pemerintah untuk menyusun masterplan pembangunan tanggul di Kota Pekalongan yang selama ini belum di susun, baik oleh pemerintah kota maupun Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana,'' katanya.

Dirinya menambahkan, selain memudahkan kerja-kerja pemerintah, masterplan akan menjadi sumber referensi bagi masyarakat untuk mengetahui rencana pembangunan tanggul yang sedang dijalankan oleh pemerintah. Dengan keberadaan masterplan yang disusun melibatkan semua pihak, baik pemerintah pusat, provinsi, kota dan masyarakat, radja optimis pembangunan tanggul di Kota Pekalongan dapat meminimalkan potensi banjir rob yang sedang terjadi.

'' Kendati pembangunannya dilakukan secara bertahap, tapi kita jauh akan lebih optimis jika ada masterplan yang jelas sehingga pembangunan didasarkan pada skala prioritas, wilayah mana yang intrusi air lautnya paling banyak terjadi,'' terangnya.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar

www.savepekalongan.com

Labels

Kanal Youtube

Pojok Opini